SHUNT menuju Gunung MERBABU

Hai, Pernah dengar Gunung Merbabu, bagi penikmat alam terutama pendaki gunung seperti nya sudah tahu, dan mungkin beberapa di antara sudah ada yang menaklukan puncaknya berkali-kali. Aku baru 2 kali.

Kali ini aku hanya ingin berbagi cerita sedikit tentang pendakian ku ke Merbabu sembari membawa Bendera kebangganku. SHUNT.

[ 2 Mei 2015 ]
Sabtu,

Pagi itu hujan cukup deras di tempat tinggalku di salah kota di Yogyakarta. Bahkan hujan sudah mengguyur kota pelajar itu sejak dini hari. Aku malas bangun tempat dari tidurku, bukan karena cuacanya yang eeeennnaaaak banget buat tarik selimut lagi, namun karena aku lagi tidak enak badan, aku terkena Flu di hari H.

Kami janjian pukul 08:00 disalah satu tempat rekan-nya saudaraku, dan aku masih sangat nyantai sampai dengan pukul 07:30, taulah… ngopi, dan melakukan beberapa aktifitas yang dapat mencair kan susana agar kepala ku tak pusing.

Pukul 08:15, aku coba memastikan temenku dan ternyata sudah stand by di tempat yang udah di tentukan sebelumnya, dan aku masih belum siap untuk berangkat hehehe…. mandi, dandan (dandani carrier agar lebih macho), dan menyiapkan motor.

pukul 08:30, aku berangkat, menerjang hujan yang cukup deras dan sejenak melupakan Flu yang menyerangku.

Pukul 09:00 kurang,  aku sudah sampai di Condong Catur, Yogyakarta. Kemudian aku di jemput disekitar tempat standbye.

sampai dengan pukul 11:00 hujan masih tetap berbaik hati menyirami tanah jogja yang sehari sebelumnya panas bingit. Sampai aku tertidur, karena memang enak banget buat tidur. Apalagi posisi nya memang udah bener-bener pewe dan anget.

Awalnya kami pesimis, apakah tetap melanjutkan perajalan atau menunggu sampai hujan reda. Ternyata temen-temen lah yang optimis karena di antara mereka baru pertama kalinya dan sangat penasaran dengan pendakian ini.

Pukul 13:00, setelah sholat dan memastikan hujan benar -benar reda kami berangkat, tujuan pertama kali adalah Klaten, menjemput 1 orang lagi, kemudian langsung berangkat menuju Selo, Boyolali.

Pukul 16:50, kami sudah sampai di Masjid yang berjarak mungkin 30 menit perjalanan motor sampai di Base Camp Selo, kami istirahat sembari melakukan Sholat Asar dan sekaligus menunggu sholat Maghrib.

Pukul 18:55, kita sudah sampai Di BaseCamp Selo, dan siap melakukan pendakian.

Pendakian kali ini, dilakukan di malam hari. Aku salah perkiraan sehingga aku tidak melakukan cukup persiapan untuk Perjalanan Malam hari. Aku tidak menyiapkan baterai HeadLamp, dan untungya saja, baterai sisa yang aku bawa cukup membawa ku sampai di Bawah Sabana 1. Kami terpaksa harus berhenti dan mendirikan tenda di situ karena salah satu anggota tim menyerah dan mengisyaratkan untuk berhenti. Terlebih aku sendiri yang sedikit memaksakan diri, melihat kondisi ku yang sebenarnya tidak terlalu Fit.

[ 3 Mei 2015 ]
Minggu,
Pukul 01:00 kami sampai bawah Sabana 1. Tanpa kami sedari, kami sudah melakukan perjalanan malam selama 6 jam yang sangat melelahkan. Sudah tak terhitung berapa kali aku berhenti karena mungkin Packingku yang sedikit over. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan Pendaki-pendaki yang turun. Dan aku pun sedikit bergumam,”apa yang mereka lakukan sampai jam 10 malam, masih ada pendaki-pendaki yang mau menempuh resiko untuk turun”. Dan aku mulai tidak memperdulikan itu setelah diriku mulai sempoyongan, karena kelelahan, iya, karena kedinginan, mungkin.

Kami langsung berbagi tim, ada yang memasak, dan ada yang mendirikan tenda. Seperti yang aku bilang, karena beberapa dari mereka baru pertama kali nya naik gunung, jadi mereka masih bingung ingin melakukan apa. Bahkan untuk memasakpun, mereka masih bingung bagaimana cara menyalakan. Akhirnya, kami yang yang sudah pernah mendaki sebelumnya, dan rela membawa “beban” yang lebih berat, melakukan double Job.

Di sela-sela makan malam kami, akhirnya kami sepakati pukul 02:00 kita Summit. Aku hanya diam saja, karena aku sudah sangat Pusing. Aku mulai berbaring dan menelan bebrapa obat untuk meredakan rasa sakit kepalaku. Banyak yang tidak konsisten di sini, yang awalnya ingin ikut, akhirnya tidak ikut karena alasan dingin dan ngantuk, yang awalnya diam dan tak mau summit, akhirnya ikut bergabung, salah satunya adalah aku.

Ya, Aku,,, awalnya aku memang tidak berniat untuk summitkarena rasa sakit ini. Namun, ketika aku berbaring, aku bergeming sendiri di dalam Sleeping Bag ku ;
– “apakah cukup sampai disini saja”
– “Kalau hanya numpang tidur aja, kenapa harus jauh-jauh kesini”
– “lebih enakan dirumah yang hangat, tidak lelah seperti ini, segelas kopi, dan Game”
Kemudian aku teringat dengan bendera yang aku Bawa. Dan semangat ku mulai bangkit. Dan aku ikut bergabung dalam Summit itu, mereka pun rela menunggu aku menyiapkan diri lebih dari 30 menit. Dan aku menghargai mereka yang sudah mau menungguku.

02:30 kita start untuk summit. Aku hanya membawa mantel, sebotol air Putih, dan Kamera. Sisanya ku serahkan pada mereka. Dan Wow…. rasanya enteng banget. Setelah beban berat yang aku bawa dari BaseCamp aku tanggal, kemudian melanjutkan perjalanan beban seperti itu, perjalanan terasa sangat cepat. Bukan kelalahan yang menghadang kami setelah itu, tapi kabut, angin, dan udara yang sangat dingin yang harus dapat kami atasi.

Demikian kisah perjalan Shunt menuju gunung merbabu

Leave a Reply