12 Informasi Seputar Gunung Lawu - versi Anbusenja


Informasi yang ingin kami bagikan ini, adalah informasi seputar Gunung Lawu. Yang mana di antaranya sudah pernah aku rasakan sendiri, dan beberapa diantara adalah hasil dari sharing dan tukar cerita sesama pendaki.


Baik yang Secara langsung ketemu di Jalur Pendakian atau nggak ketemu dijalan yang kebetulan pernah mendaki ke Gunung Lawu dan membandingkan pengalamannya saat mendaki gunung lainnya.


Selain itu, Gunung Lawu adalah Gunung yang memiliki cerita tersendiri. Karena pertama kali aku merasakan pengalaman mendaki Gunung yang berketinggian diatas 2000mdpl adalah saat pendakian Gunung Lawu tahun 2005 Silam.


Jelas sudah beda jika di bandingkan dengan sekarang. Meskipun begitu, Informasi ignin aku bagikan ini, semoga bisa menjadikan pengalaman mendaki mu Ke Gunung ini bisa lebih maksimal. Hehehe. So berikut informasinya.

1. Gunung Lawu memiliki suhu (ter)dingin

Entah apakah aku sendiri yang merasakan, atau yang lain juga merasakan hal yang sama bahwa Gunung Lawu ini memiliki suhu yang lebih dingin daripada gunung-gunung lainnya, khususnya di Pulau Jawa.

Sebagai Gunung yang paling banyak aku kunjungi, seolah kepekaan ku terhadap perbedaannya juga ikut itu bertambah. Salah satunya adalah suhu yang Wow sekali dinginnya.

Terlebih jika mendaki musim kering, dimana suhu di sana akan turun drastis.

2. Berada di dua provinsi

Secara geografis, Gunung Lawu berada di antara dua provinsi, yaitu Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah.

Disisi Jawa Timur berada di wilayah Kecematan Plaosan – Kabuptaen Magetan.

Disisi Jawa Tengah berada di wilayah Kecamatan Tawangmangu – Kabupaten Karanganyar.


Baca :

  1.  Kebun Teh Nglinggo
  2.  Pendakian Gunung Lawu yang ke 7
  3.  Menikmati Senja di Pantai Greweng
  4.  Senja di Pantai Greweng

3. Digunakan sebagai jalur alternatif

Di kaki gunung lawu, ada jalan alternatif yang menghubungkan antara Jatim dan Jateng. Mengingat kondisi jalan yang sudah diperbaiki, dimana jalan sudah diaspal dengan halus dan relatif lebih lebar, maka tidak heran jika jalur ini digunakan sebagai jalan alternatif.


Yang mana sebelumnya dari masing-masing kota di provinsi yang berbeda tersebut jika ingin menuju ke provinis lainnya, membutuhkan waktu 3-4 jam dengan memutari Gunung Lawu. Dari sisi selatan melewati Ponorogo – Wonogiri, sedangkan di sisi utaranya melewati Ngawi – Sragen.


Dengan melewati jalur alternatif ini, hanya membutuhkan waktu paling lama dua jam jika dihitung mulai masing-masing kotanya,


Aku pernah mencobanya. Hehehe

4. Basecamp Pendakian tertinggi di Jawa Timur.

Untuk point ini, sebenarnya aku masih belum yakin 100%. Karena belum mengukur langsung dengan Altimeter ataupun membandingkan dengan basecamp-basecamp lainnya.


Hanya mendengar cerita dari pendaki-pendaki sepuh yang sudah banyak menjelajahi Gunung di Jawa, yang khususnya Jawa Timur.

Namun, jika melihat lokasi Cemoro Sewu  yang sudah cukup dingin dan durasi perjalanan menuju puncak yang relatif singkat, bukan tidak mungkin jika fakta ini menjadi kenyataan. Hehehe… maksa banget yak.

5. Jarak antar Basecamp berdekatan.

Yaitu Basecamp Cemoro Sewu di Jatim dengan Basecamp Cemoro Kandang di Jateng. Jarak antar basecamp ini pun hanya beberapa menit saja.


Sebenarnya hal seperti ini jarang sekali ditemukan, apalagi di gunung-gunung Jawa Timur di mana jarak basecamp satu dengan yang lainnya cenderung berjauhan.


Meskipun basecamp yang berdekatan, masing-masing jalurnya memiliki karakter yang jauh berbeda.


Keuntungan dari fakta ini, jika salah satu jalur dari basecamp dirasa penuh kuotanya maka langsung bisa ke basecamp satunya tanpa harus membuang waktu banyak.

Baca : 10 Alasan kamu Harus mendaki walaupun sekali

6. Memiliki Empat Jalur Pendakian

Sampai dengan hari ini, jalur dipendakian gunung lawu memiliki empat jalur resmi. Diantaranya;

1. Jalur Cemoro Kandang (Karanganyar – Jawa Tengah)

2. Jalur Candi Cetho (Karanganyar – Jawa Tengah)

3. Jalur Cemoro Sewu (Magetan – Jawa Timur)

4. Jalur Jogorogo (Ngawi – Jawa Timur)

Tentunya, dari jalur diatas memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Kalau aku sendiri, meskipun sudah berkali mendaki Gunung Lawu berkali-kali, baru bisa melalui jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang.

Mungkin diantara kalian sudah pernah merasakan semuaya, bisa di bagikan pengalamannya.. ^_^

7. Populer di kalangan Pelaku Spiritual

Mungkin ini sudah menjadi rahasia, jika di Gunung Lawu di bulan tertentu di padati oleh orang yang bukan dari kalangan pendaki, melainkan dari kalangan pelaku spiritual yang melakukan ritual disana. Terlebih saat bulan Suro.


Maka jangan heran, di bulan tersebut banyak di jumpai para pendaki yang memakai peralatan yang tidak umum di pakai oleh pendaki, karena kebanyakan dari mereka sedang melakukan tirakatan, atau semacam ritual menurut kepercayaan nya masing-masing.


Terlebih jika di kaitkan dengan Presiden pertama dan kedua yang konon, beliau-beliau pernah melakukan ritual di Gunung Lawu ini.

8. Memiliki jalur yang tidak membuat tersesat

Yang aku maksud adalah jalur Cemoro Sewu. Kenapa bisa begitu, karena dijalur ini kalian hampir tidak akan menemui jalur terabasan, yang menandakan bahwa hanya ada satu jalur utama.

Dengan begitu, bagi pendaki yang baru pertama kali ke Gunung Lawu, meskipun sendirian tidak perlu khawatir untuk tersesat. Selama tidak ada niat buruk di awal pendakian dan selalu menghormati larangan serta menjaga sopan santun selama di perjalanan.

9. Memiliki Sumber Mata Air

Syarat gunung yang aman untuk pendakian, salah satunya adalah memiliki sumber mata airnya. Dan di Gunung Lawu, ada sumber mata air yang bahkan ada yang tak pernah kering, yaitu sendang derajat.

Kelebihannya adalah sumber mata air Sendang Derajat ini berada di samping jalur pendakian Cemoro Sewu.

Kekurangannya, lokasinya berada setelah pos 5. Jadi, untuk mencapai sumber mata air ini kalian harus berjuang untuk sampai atas dulu.

10. Terdapat warung di puncak.

Siapa yang nggak kenal Warung Mbok Yem. Seperti belum afdol jika mendaki Gunung lawu, tidak mampir di warungnya mbok yem.

Di warung mbok yem sendiri, menyediakan berbagai menu makanan. Tapi, yang lebih banyak diminati pendaki saat membeli disini adalah makanan hangat seperti Soto dan Gorengan.

Jangan bingung soal harganya karena dengan membawa uang Rp.10.000,- kamu sudah bisa membeli Soto dan Jeruk Hangat. Cukup mengganjal perut dan merasakan sensasi makan diwarung tertinggi di Jawa Timur.

11. Terdapat Pasar Setan

Aku rasa, banyak Gunung-gunung di Jawa, memiliki pasar setan seperti halnya di Gunung Lawu ini. Sebut saja Gunung Merapi dengan Pasar Bubrahnya dan Gunung Sumbing dengan Pastannya.


Konon, saat melewati jalur ini kemudian terdengar suara yang menawarkan dagangannya, kita diminta untuk membuang uang berapapun kemudian mengambil sesuatu dari tempat itu seperti batu atau daun.

Baca : Tips Melakuan Packing

12. Terdapat Buang Abadi

Atau disini kita sebut Bunga Edelweis. Biasanya banyak ditemukan di bawah puncak, antara pos 5 sampai tempatnya warung mbok yem.

Namun, ada larangan untuk membawa bunga ini turun, apalagi memetiknya. Karena jika ketahuan membawa oleh Petugas sudah pasti akan dikenai sanksi.

Sanksi disini bukan sanksi pidana, melainkan sanksi ditempat.

Yang paling ringan, setahuku adalah membersihkan area basecamp, atau tidak dikasih trashbag besar kemudian diminta memasukan sampah yang ditemukan sampai penuh.

Yang paling berat, adalah dipermalukan di depan pendaki yang mau naik atau yang sudah turun dengan meneriakan kalimatan penyesalan atau menghafalkan Pancasila dengan keras.

Yah, menurutku itu juga sepadan kok dari perbuatannya. Hehehe.

Baca Selengkapnya
Loading...